Cabai mengandung banyak nutrisi


Cabai (Capsicum annum) termasuk genus Capsicum, famili  Solanaceae. Mudah tumbuh di dataran rendah maupun dataran tinggi, paling cocok di tanah gembur dengan pH tanah antara 5-6.

Cabai bisa digolongkan sebagai sayuran atau bumbu, tergantung pada pemakaiannya. Sebagai bumbu, cabai sangat populer terutama bagi menu-menu masakan Padang. Dan sebagai sayuran, bisa dilalap besama tempe atau tahu goreng; atau menjadi campuran salad (cabai paprika).

Ibarat pisau bermata dua, itulah cabai. Disukai, diinginkan, bahkan orang bisa kecanduan cabai, karena menambah gairah makan. Tetapi juga dibenci oleh mereka yang tidak tahan rasa pedasnya, serta dapat membuat sakit perut apabila makan cabai berlebihab.

Gizi dan manfaat cabai

Menurut Dr Prapti Utami, konsultan herbal dari tanaman obat keluarga Evergreen di Bintaro Jaya, Tangerang, cabai adalah salah satu bahan makanan yang kaya gizi. Penelitian menunjukkan bahwa cabai sarat vitamin C dan  betakaroten. Kadarnya melebihi mangga, nanas, papaya, maupun semangka. Bahkan kandungan mineralnya terutama kalsium dan fosfor lebih banyak daripada ikan segar. Kadar vitamin C pada cabai besar lebih tinggi daripada cabai rawit. Dan vitamin C pada paprika merah dua kali lipat  daripada paprika hijau atau kuning. Sedangkan betakaroten pada paprika merah sembilan kali lebih tinggi daripada paprika  hijau.

Rasa pedas cabai disebabkan kandungan kapsaisin (capsaicin)  yang terkonsentrasi pada bagian tengah cabai (uratnya yang berwarna putih tempat melekatnya biji-biji). Karena itu, untuk mengurangi rasa pedas, urat dan biji-bijinya dibuang.

Beberapa manfaat dari cabai :

1. Cabai mampu meningkatkan nafsu makan (bersifat stomakik).

2. Cabai juga mampu merangsang produksi hormon endorfin, yaitu hormon yang membangkitkan sensasi nikmat. Karena itu, cobalah makan makanan pedas cabai ketika kepala sedang pusing. Rasa pedas yang ditimbulkan oleh kapsaisin dapat menghalangi aktivitas otak untuk menerima sinyal rasa sakit yang kita derita. Demikian menurut Dr Prapti.

3. Cabai sebagai obat? Memang demikian. Kapsaisin dalam cabai ternyata dapat mengencerkan lendir  sehingga dapat melonggarkan penyumbatan pada tenggorokan dan hidung, termasuk sinusitis. Kapsaisin juga bersifat antikoagulan dengan cara menjaga agar darah tetap encer dan mencegah terbentuknya kerak lemak (ateroklerosis) pada pembuluh darah. Karena itu tidak mengherankan jika mereka yang sering mengkonsumsi cabai terhindar dari aterosklerosis. Artinya mereka berisiko kecil terserang stroke, jantung koroner, maupun impotensi. (N)

Sumber : Srikandi Waluyo dalam http://www.nirmalamagazine.com

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: